PDIP Usung Ahok Bertarung di Pilkada Sumut, Takut Kalah di DKI Jakarta?

Ahok saat menjadi Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) (Foto: Instagram/@basukibtp)

PARBOABOA, Jakarta - Dinamika pemilihan kepala daerah (Pilkada) 2024 sedang memasuki tahap persiapan yang alot. 

Masing-masing partai politik terlihat membangun konsolidasi untuk mengusung calon terbaik mereka.

Terkini, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) berencana mengusung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai calon gubernur dalam Pilkada Sumatera Utara (Sumut) 2024. 

Nama Ahok yang pernah menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan Komisaris Utama Pertamina, telah menjadi topik pembahasan hangat dalam internal partai. 

Menurut Ketua DPP PDIP, Eriko Sotarduga, meskipun Ahok telah banyak dibahas sebagai kandidat untuk Jakarta, ada kemungkinan bahwa ia akan diarahkan untuk berkompetisi di Sumut. 

"Secara jujur, saya harus katakan bahwa Pak Ahok masih mendapat dorongan untuk maju di Pilkada Sumatera Utara. Ini juga menarik," kata Eriko dalam pertemuan di kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Kamis (16/05/2024).

Dia menilai bahwa untuk menjadi orang nomor satu di Sumut, maka harus memiliki latar belakang dan modal sosial yang cukup baik seperti halnya Ahok.

Terlebih lagi, lanjutnya, wilayah Sumut yang begitu luas membutuhkan sosok berpengalaman dalam mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Kemampuan tersebut dinilainya ada di dalam diri Ahok yang semula pernah menjabat Gubernur DKI Jakarta sebelum dijebloskan kedalam penjara karena tuduhan penistaan agama.

Selain itu, mundurnya Ahok dari Komisaris Utama PT Pertamina (Persero) untuk mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut tiga, Ganjar-Mahfud dalam pemilihan presiden dinilai menjadi ajang barter.

"Dalam kesempatan tersebut, Pak Basuki diduga telah membuat kesepakatan untuk bisa berkompetisi di Pilgub dengan dukungan PDIP," ujarnya.

Eriko menambahkan bahwa Sumut yang sedang dipimpin Edy Rahmayadi selama lima tahun terakhir, memerlukan pemimpin baru yang dapat membawa perubahan mendasar. 

Pernyataan Eriko mengindikasikan bahwa Ahok dipandang sebagai kandidat yang mampu mengimplementasikan perubahan tersebut.

Selain itu, Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto pada Senin, (13/05/2024) mengungkapkan bahwa Ahok juga akan terlibat dalam membantu pemenangan kader partai dalam Pilkada 2024. 

Ahok akan memberikan masukan dalam perancangan kurikulum Sekolah Partai untuk kepala daerah, berdasarkan pengalaman dan praktik terbaik yang telah ia terapkan selama ini.

Pilkada 2024 sendiri akan mengikuti jadwal yang ketat, dimulai dengan proses pemberitahuan dan pendaftaran pemantau pemilihan pada 27 Februari hingga 16 November 2024. 

Dengan mengusung figur sekaliber Ahok di Pilkada Sumut, PDIP tampaknya bertekad untuk memperkuat posisi dan pengaruhnya di panggung politik regional dan nasional.

Secara khusus, partai berlambang Banteng Moncong Putih itu sedang berupaya menghadapi tantangan dan persaingan politik yang semakin intens menjelang Pilkada 2024.

Analisis Pengamat

Majunya Ahok di Pilkada Sumut melahirkan berbagai perspektif. Sebagian menyebut bahwa Sumut dipilih karena memiliki peluang kemenangan lebih besar dibanding Jakarta.

Sementara sebagian lain menyatakan, pilihan untuk maju di pilkada Sumut hanya menjadi alternatif sambil menimbang dinamika politik yang terjadi di Jakarta.   

Pengamat Politik dan Direktur PoliEco Digital Insights Institute (PEDAS), Anthony Leong mengatakan bahwa Ahok memiliki energi besar untuk maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta.

"Ahok punya energi yang besar untuk kondisi sekarang dan dia bisa menyalurkannya di Pilgub DKI Jakarta," kata Anthony dalam keterangan yang diterima PARBOABOA, Jumat (17/05/2024).

Anthony menuturkan mantan gubernur DKI Jakarta itu masih memiliki tujuan (goal) yang memang belum tercapai.

Menurut dia, hal ini bersamaan dengan kondisi internal partai PDIP yang kekurangan kader mumpuni untuk maju dalam ajang Pilgub. 

Momentum majunya Ahok, karena itu menjadi kesempatan berharga untuk memulihkan nama baik partai.

"Karena Pilgub DKI cukup strategis sehingga harus ada kader-kader yang maju di sana," ujarnya.

Berbeda dengan Anthony, Analis Politik dan Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menilai bahwa PDIP akan lebih untung jika mengusung Ahok di Pilgub Sumut 2024.  

"PDIP akan lebih diuntungkan jika usung Ahok di Sumut dibanding harus maju di Jakarta," kata Dedi, Jumat (17/05/2024).  

Baginya, Ahok lebih berpeluang menang di Sumut dibandingkan Jakarta. Alasannya selain karena merupakan putra daerah Sumut, Ahok juga dinilai mampu memberi jawaban untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di sana. 

"Secara personal, Ahok lebih diterima di Sumut. Ia juga putra Sumatera, sehingga memungkinkannya bersaing dan punya peluang lebih bagus dibanding harus maju di Jakarta," sambungnya. 

Di pihak lain, Pengamat Politik, Ujang Komarudin pesimis jika Ahok bisa menang di Pilkada Sumut 2024. 

Baginya, sekalipun Sumut mempunyai konteks yang berbeda dengan Jakarta, tetap saja persoalan penistaan agama menjadi alasan kuat bagi masyarakat, terutama kelompok Islam untuk tidak memilih Ahok. 

"Di situ letak kekurangan yang harus diperhatikan, baik oleh Ahok sendiri maupun oleh PDIP. Namun, keputusan akhir tetap tergantung pada partainya," ungkap Ujang, Sabtu (18/05/2024).

Ia juga menyebut, situasi akan semakin sulit jika petahana dan Wali Kota Medan, Bobby Nasution, maju dalam Pilkada 2024. 

Sebagai menantu Presiden Joko Widodo (Jokowi), keikutsertaan Bobby menambah dimensi baru dalam persaingan. 

"Terlebih lagi, jika berbicara tentang Sumatera Utara, dengan petahana yang maju dan Bobby, menantu Presiden, persaingan akan menjadi semakin sengit," tutup Ujang.

Publik tentu menanti dinamika politik yang sedang dimainkan oleh internal PDIP. 

Sejumlah pertimbangan harus dipikirkan agar memberi efek yang menguntungkan bagi partai di satu pihak dan karir politik Ahok di lain pihak.    

Editor: Defri Ngo
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS