Emi dan Ura, Maskot Pilkada Pematangsiantar yang Hidupkan Budaya dan Demokrasi

Emi dan Ura, maskot Pilkada Pematangsiantar karya Nazar Ikhsan. (Foto: Nazar Ikhsan)

PARBOABOA, Pematangsiantar - Lima bulan menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Kota Pematangsiantar, Desainer Nazar Iksan melahirkan sepasang karya yang diberi nama Emi dan Ura.

Karya ini dipilih sebagai maskot pilkada Pematangsiantar 2024 setelah melalui peluncuran resmi oleh Ketua KPU, M. Isman Hutabarat pada 15 Mei lalu.

Emi, akronim dari Eta Memilih (Mari Memilih) dan Ura singkatan Untuk Rakyat merupakan perpaduan Bahasa Indonesia dan Bahasa Simalungun.

Kombinasi dua bahasa ini hendak menegaskan masyarakat Kota Pematangsiantar hidup di Tanah Simalungun dan menjadi bagian dari Indonesia.

Dalam karyanya, Nazar menggambarkan sosok Emi dalam bentuk kotak suara dilengkapi dengan aksesoris pakaian adat Wanita Simalungun. Bagian kepalanya mengenakan bulang serta dilengkapi hiou (kain tenun khas Simalungun).

Sementera itu, Ura merupakan sosok lelaki Simalungun yang mengenakan gotong di kepalanya dilengkapi hiou. Nazar, melalui sepasang karyanya mengungkapkan kecintaannya terhadapa budaya Simalungun.

"Seperti kata pepatah, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung," katanya kepada Parboaboa, Sabtu (8/6/2024).

Nazar sendiri bukan berasal dari suku asli Simalungun, namun tekun mempelajari kebudayaan setempat hingga bisa memenangi syambara dengan karya nya Emi dan Ura.

"Aku Jawa bang, mamakku Boru Simanjuntak. Tapi aku lahir dan besar di Pematangsiantar, sampai sekarang menikah dan punya anak tetap di kota ini," kisah Nazar.

Pria berusia 32 tahun ini sudah menekuni dunia desain grafis sejak duduk di bangku kuliah. Ia yang saat itu mengambil jurusan komputer mengaku belajar secara otodidak untuk menjadi desainer seperti sekarang.

Meski mendapat banyak inspirasi dari kebudayaan Simalungun, Nazar dalam desainnya tak lupa memberi kesan modern pada karya Emi dan Ura terutama untuk menarik minat pemilih muda di Pilkada.

Sementara itu, walau Maskot Emi dan Ura dibuat hanya dalam waktu tiga hari tetapi konsepnya dirancang dalam waktu yang lama. Tak hanya itu, sebelum dipilih sebagai pemenang harus beberapa kali direvisi sesuai kaidah KPU.

"Tanggal 10 pengumpulan karya, tanggal 13 pengumuman sekaligus ada permintaan revisi, dan tanggal 15 launching maskot dari KPU," kata Nazar.

Bagi Nazar, ini bukan pengalaman pertama ia mengikuti kompetisi lomba desain maskot untuk Pilkada. Di Pilkada 2020 ia meraih juara dua dengan menghadirkan sosok Gota (Gondang Batak).   

Ia berharap maskot Emi dan Ura yang dilukiskan dengan senyum sumringah bisa menarik perhatian masyarakat untuk berpartisipasi dalam Pilkada Pematangsiantar 2024. 

Meski Sayembara telah lama usai, Nazar berpesan agar ke depan, kompetisi, berikut pengunguman dan peluncuran logo tidak boleh hanya sebatas seremonial.

Kata dia, program-program seperti ini harus benar-benar dipersiapkan secara matang, termasuk memastikan ketepatan pemberian hadiah.

“Hadiahnya sudah pas menurut saya. Karya seni dan kreativitas itu sebenarnya tidak bisa dipatokkan berapa. Saya pribadi cukup puas. Tapi, pencairan lama,” ungkapnya.

Nazar tak ingin berjalan sendiri. Ia berharap profesi seperti mereka diberi ruang dan dihargai lebih layak. Ia melihat, selama ini, desainer grafis seperti hanya pelengkap dalam setiap pekerjaan. 

"Padahal, kalau kita lihat sekarang semua hal tidak lepas dari dunia desain grafis,” tutupnya.

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS