Kebijakan Tarif Trump Gegerkan Ekonomi Global, Eropa dan Cina Siapkan Balasan

Presiden AS Donald Trump (foto: AP)

PARBOABOA, Jakarta – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump baru saja mengumumkan kebijakan tarif baru, yakni 10 persen bagi seluruh barang yang masuk ke AS dan tarif timbal balik yang besarannya variatif. Tidak main-main, kebijakan ini diberlakukan bagi lebih dari 180 negara, termasuk Indonesia.

Negara-negara Eropa dan Cina berjanji akan melakukan balasan atas langkah Trump yang dianggap kontraproduktif. Pasar pun merespons negatif. Para ahli bahkan memperingatkan perekonomian global dapat terguncang.

Cina berjanji akan mengambil langkah balasan untuk “melindungi hak dan kepentingan mereka.” Media pemerintah menyebut tarif tersebut sebagai “tindakan intimidasi yang merugikan diri sendiri.”

Sementara itu di Brussels, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan dalam konferensi pers pagi waktu setempat, Uni Eropa akan bersatu dalam menanggapi tarif tersebut.

“Jika Anda menyerang salah satu dari kami, berarti Anda menyerang kami semua,” katanya seperti dilaporkan the New York Times.

Perdana Menteri Spanyol, Pedro Sánchez, menantang argumen yang disampaikan pihak Trump yang mengatakan kebijakan ini bersifat "resiprokal" sambil meminta data perdagangan yang dipakai AS sebagai rujukan.

Dalam pernyataannya yang disiarkan lewat televisi, Sánchez justru menuding langkah Trump sebagai upaya "mengumpulkan uang guna menutupi defisit yang terjadi karena kebijakan fiskal mereka."

Ia meminta Trump untuk mempertimbangkan kembali keputusan tersebut dan bernegosiasi.

Lebih Diplomatis

Tidak semua negara bersikeras melakukan tindakan balasan. Inggris misalnya, lebih memilih jalur negosiasi. Perdana Menteri Keir Starmer mengatakan pihaknya akan terus melanjutkan negosiasi perjanjian perdagangan dengan AS.

Sikap Jepang, investor luar negeri terbesar di AS, juga lebih terkendali. Perdana Menteri Shigeru Ishiba hanya menyebut [kebijakan] tarif tersebut sebagai “sangat disayangkan.” Namun, ia menahan diri untuk tidak membahas tindakan balasan dengan mengatakan pemerintahnya tengah berupaya meyakinkan Pemerintahan Trump bahwa Jepang turut membantu AS dalam reindustrialisasi.

Sementara itu Kementerian Perdagangan India menyatakan pihaknya sedang "menganalisis secara cermat dampak kebijakan" AS. Presiden Trump memberlakukan tarif 27 persen terhadap negara tersebut.

Perancis juga termasuk negara yang tidak buru-buru menyatakan hendak mengambil tindakan balasan. Ekspor ke AS kebanyakan terkait industri penerbangan. Airbus—produsen pesawat terbesar di dunia—mengatakan pihaknya memantau situasi kebijakan tarif baru dengan cermat.

Seorang juru bicara perusahaan raksasa aeronautika Eropa tersebut mengungkapkan pihaknya telah "mencatat pengumuman dari pemerintahan Trump" dan sedang "menilai dampaknya."

Airbus mungkin akan mendapat perlakukan berbeda karena ada pabrik perakitan di Alabama, AS. Namun, mereka juga memiliki fasilitas manufaktur di Eropa, Kanada, Meksiko, dan Cina, yang berpotensi terkena dampak dari kebijakan tarif tersebut.

Editor: Rin Hindrayati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS