Kuota M-Paspor Sulit, Calo pun Berduit

Paspor yang dibuat melalui calo di Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur. (Foto: PARBOABOA/Akbar)

PARBOABOA, Jakarta – Paspor menjadi salah satu dokumen penting yang harus disiapkan ketika hendak bepergian ke luar negeri.

Dokumen ini merupakan identitas resmi yang diakui secara internasional. Tanpa paspor, pemeriksaan imigrasi di bandara maupun pelabuhan, tidak dapat dilewati.

Namun, apa jadinya jika paspor susah didapatkan? Ya, nggak bisa ke luar negeri, dong!

Itulah yang terjadi saat ini. Antrian M-Paspor bagai barang berharga yang cukup sulit didapatkan.

Seluruh Imigrasi di DKI Jakarta serentak penuh, bahkan ada yang sampai Agustus 2024. Pun begitu dengan Mal Pelayanan Publik (MPP) dan Unit Layanan Pengadaan (ULP).

Antrian di Imigrasi kelas I Jakarta Pusat yang sudah penuh hingga Agustus 2024. (Foto: PARBOABOA/Wanovy Hutapea)

Entah apa yang terjadi, semua tanggal berwarna merah jambu. Tak tersisa satu pun yang hijau untuk mendapatkan antrian.

Jalur percepatan pun sama terbatasnya. Jika datang cepat, maka antrian didapat. Namun jika telat, hilang sudah tempat.

Dan pilihan yang tersisa adalah makelar atau ‘Calo’. Penyedia jasa ini memiliki segudang slot pembuatan paspor untuk jenis apa pun.

Terbukti setelah berkeliling lima belas menit di Imigrasi kelas I Jakarta Pusat. Dua calo dengan ciri-ciri berbeda menawarkan harga yang bervariasi untuk pembuatan paspor biasa.

“Tapi harganya Rp2,5 juta,” tutur pria berbaju biru, sebut saja Dudung, Selasa (23/04/2024).

Penawaran pun dilakukan untuk menyesuaikan budget. Hingga akhirnya mentok di angka Rp2 juta.

Namun, calo kedua menawarkan harga miring. Dengan Rp1,5 juta, paspor biasa bisa didapatkan.

“Kirim aja berkasnya, besok langsung foto. Tiga hari jadi,” tutur lelaki paruh baya bernama Udin (samaran).

Tak berbeda jauh dengan pembuatan paspor pada umumnya. Berkas yang dibutuhkan dan lama pembuatan sama saja. Bisa dipercepat jika harganya tepat.

Namun, menurut Udin, KTP diluar Jabodetabek memiliki masalah yang rumit. Oleh karena itu, banyak dokumen tambahan yang diinginkan, termasuk surat rekomendasi kantor hingga slip gaji.

Merasa belum puas, Udin akhirnya meminta untuk pengurusan paspor dialihkan ke Imigrasi Kelas I TPI Jakarta Timur.

“Kalau saya buatin Imigrasi Jakarta Timur mau nggak? Berkas cukup begitu aja. Kalau mau besok jam 1 di Imigrasi Jakarta Timur,” jelasnya dalam chat WhatsApp, Selasa (14/05/2024).

Kesepakatan pun terjalin. Proses pembuatan paspor dilakukan langsung keesokan harinya. Bertemu di lobby setelah jam makan siang dan menunggu antrian di lantai dua.

Tak banyak yang ditanya saat proses wawancara. Mata pewawancara hanya tertuju pada slip gaji. Percakapan pun jadi lebih cepat.

Wawancara selesai dan diakhiri obrolan santai. “Ribet di Jakpus, mendingan di sini, gak terlalu ketat.”

Jaringan yang luas membuat Udin tidak pusing jika pembuatan paspor sulit dilakukan di dapurnya, Jakarta Pusat. Ia cukup beralih beralih ke Imigrasi lain, seperti di Jakarta Timur.

“Pembayaran transfer ya? Nanti tinggal tunggu 3 hari,” ucapnya sambil meninggalkan Imigrasi bersama dua pria lainnya, Rabu (15/05/2024).

Dua hari kerja berlalu, tepat Senin (20/05/2024), paspor pun jadi dan diserahkan Udin. Benar-benar tak berbeda dengan paspor pada umumnya, hanya saja tak perlu menunggu slot M-Paspor kosong dan lebih mahal tentunya.

Cukup lama obrolan bersama Udin. Dia bercerita,”Kita di Jakarta Pusat itu ada basecamp. Jadi kita gak ambil semua uangnya.”

“Misalnya kemarin, ke Imigrasi kita Rp310 ribu harus nyetor. Kita tuh Rp350 ribu buat sewa basecamp, terus kita bagi lagi ke orang Imigrasi,” ungkapnya.

Basecamp yang dimaksud adalah gedung tempat mereka berkumpul, dilengkapi dengan sejumlah fasilitas, seperti kulkas hingga komputer. Jika uang sewa berlebih, maka akan dipakai jalan-jalan.

“Nah, dalam pembuatan paspor itu ada bayar dokumen yang gak lengkap sebesar Rp100 ribu. Kemarin kan ga lengkap dokumennya 2, jadi saya bayar lagi ke Imigrasi Jakarta Timur Rp200 ribu,” tuturnya.

Meski begitu, Udin mengaku tak tahu menahu soal banyaknya antrian di calo sementara M-Paspor selalu saja penuh.

“Saya sih siapa yang mau saja. Kalau mau, Alhamdulilah. Kalau tidak, ya sudah.”

Pihak Imigrasi Jakarta Timur pun bergeming saat ditanyai persoalan ini. Pun begitu dengan Direktur Jendral Imigrasi, Silmy Karim.

Tak ada balasan hingga saat ini mengenai alasan banyaknya antrian di calo sementara M-Paspor selalu saja penuh.

Reporter: Wanovy Hutapea, Gregorianus Agung, dan Norben Syukur

Editor: Yohana
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS