The FED Pertahankan Suku Bunga, IHSG dan Emas Tertekan

Ilustrasi Bank Sentral AS pertahankan suku bunga acuannya. (Foto: PARBOABOA/Fika)

PARBOABOA, Medan – Rilis data inflasi Amerika Serikat yang tidak diikuti dengan sikap dovish The FED justru membuat pasar saham di tanah air mengalami koreksi.

Spekulasi penurunan suku bunga acuan yang memudar justru memberikan indikasi bahwa suku bunga akan bertahan lama. Yang artinya bahwa sektor riil berpeluang mengalami tekanan yang berkepanjangan.

Tentunya akan bermuara pada tekanan yang terjadi pada pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sendiri ditutup melemah 0.27 persen di level 6.831,564 di mana asing membukukan transaksi beli bersih senilai Rp626 miliar. 

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan pelemahan IHSG tak ubahnya kinerja sejumlah bursa di Asia yang turut diperdagangkan dengan pelemahan yang terbatas.

Kinerja pasar saham masih berpeluang mengalami tekanan, jika rilis inflasi produsen AS merealisasikan kinerja yang lebih tinggi dari ekspektasi.

Sementara itu, mata uang Rupiah ditutup menguat di level 16.265 per US Dollar. Kinerja mata uang Rupiah membaik setelah sejumlah indikator yang menunjukkan kinerja US Dollar mengalami pelemahan.

Satu di antaranya adalah melemahnya imbal hasil US Treasury 10 tahun (4.308 persen) yang lebih rendah dari perdagangan sehari sebelumnya.

Di sisi lain, harga emas dunia ditransaksikan stabil dengan kecenderungan melemah pada perdagangan hari ini.

Harga emas ditransaksikan di kisaran 2.315 US Dollar per ons troy nya. Di mana harga emas nyaris tidak bergerak banyak setelah The FED mempertahankan bunga acuan. 

Secara keseluruhan kebijakan The FED pada hari ini tidak memberikan kejutan yang signifikan bagi pasar keuangan dan komoditas.

Sebelumnya, Gunawan Benjamin menuturkan Bank Sentral AS atau The FED tetap mempertahankan besaran bunga acuannya di level 5.5 persen. 

Kebijakan tersebut diambil saat inflasi inti AS justru mengalami penurunan menjadi 3.4 persen di bulan Mei secara year on year. 

Secara keseluruhan inflasi di AS juga turun di level 3.3 persen secara year on year. Dan The FED sendiri memberikan sinyal pemangkasan bunga acuan satu kali di tahun ini melalui dot plot. 

Namun, hasil dot plot juga menunjukkan ada pejabat Bank Sentral AS yang justru menilai bahwa pemangkasan bunga acuan mungkin tidak akan pernah ada di tahun ini.

Terkait dengan kebijakan penting Bank Sentral AS tersebut, IHSG dibuka menguat di level 6.893 dan mata uang Rupiah ditransaksikan menguat di level 16.270 per US Dollar.

Pasar keuangan berkinerja cukup baik pada sesi perdagangan pagi. “Dari sejumlah indikator yang ada, saya menilai Rupiah yang memiliki potensi untuk berada di zona hijau selama sesi perdagangan hari ini,” ucapnya kepada PARBOABOA, Kamis (13/06/2024).

Sementara IHSG, masih cukup volatile dan berpeluang ditransaksikan di dua zona. Seiring dengan respon sejumlah bursa di Asia yang walaupun mayoritas menguat, namun penguatannya sangat terbatas.

IHSG pada perdagangan hari ini berpeluang ditransaksikan dalam rentang 6.830 hingga 6.900. Sementara Rupiah berpeluang untuk bergerak dalam rentang 16.230 hingga 16.280. 

Pada dasarnya, arah kebijakan The FED ke depan justru lebih hawkish ketimbang spekulasi kebijakan sebelumnya.

Di mana The FED justru diproyeksikan akan memangkas bunga acuannya sebanyak 3 kali di tahun 2024 ini. 

Tentunya, kebijakan The FED tidak bisa dianggap sebagai kabar baik sepenuhnya. Karena The FED kian jauh dari kemungkinan pemangkasan bunga acuan.

Selain pasar keuangan yang merespon dingin kebijakan The FED, harga emas juga terpantau terkoreksi tipis di kisaran level 2.313 US Dollar per ons troy nya. 

Harga emas gagal mengalami kenaikan, karena suku bunga acuan US Dollar masih bertahan tinggi untuk waktu yang lama.

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS