Wisata Sejarah-Budaya di Samosir: Terseok di Tengah Kawasan Super Prioritas

Nama objek wisata budaya Batu Hobon di Kabupaten Samosir, Sumatra Utara, yang sebagian hurufnya hilang karena tidak lagi menjadi perhatian pemerintah. (Foto: PARBOABOA/Calvin Siboro)

PARBOABOA - Bangunan berkelir putih dengan atap segitiga lancip itu tampak tak terurus. Satu sisi atapnya tampak menganga hingga rangka besinya tampak dari luar. 

Rumput-rumput liar setinggi lutut tumbuh sembarang di sekitar bangunan. Sementara itu, toilet yang tak terawat mengeluarkan bau menyengat. 

Kondisi gedung pusat informasi turis di objek wisata Batu Hobon itu sangat tidak layak. Batu Hobon adalah destinasi wisata budaya di Desa Sarimarrihit, Kabupaten Samosir, Sumatra Utara. 

Batu Hobon menyerupai kubah, terbentuk dari batu lava dasitan yang menyembul ke permukaan tanah akibat dorongan magma lava Gunung Pusuk Buhit. Masyarakat Batak, terutama etnis Toba, meyakini Batu Hobon sebagai tempat sakral yang dibangun Saribu Raja.

“Kalian beritakan itu kalau Batu Hobon tidak dirawat pemerintah,” kata kata Opung Putri Limbong kepada Parboaboa, medio April lalu. 

Ia merupakan Raja Bius dari lembaga adat Bius Sipitu Tali. Raja Bius adalah figur yang diyakini paling otoritatif perihal adat budaya batak. 

Ia pula pemilik tanah tempat destinasi Batu Hobon berada. Pada 2018, Pemkab Samosir mengambil alih pengelolaan Batu Hobon. 

Lokasi itu kemudian dipoles menjadi tempat wisata sebagai bagian dari Kawasan Geopark Kaldera Toba. Belakangan pemeliharaan situs Batu Bohon membuat Opung Putri Limbong kecewa. 

“Setidaknya dirawat baguslah. Lihatlah udah enggak terawat bangunan yang mereka bangun disana. Udah rusak semua,” ia berujar.

Kondisi bangunan Baru Hobon di kawasan Geopark Kaldera Toba yang minim perhatian Pemerintah Kabupaten Samosir. (Foto: PARBOABOA/Calvin Siboro)

Kondisi tersebut dianggapnya telah melecehkan sakralitas Batu Bohon. Dari sisi pariwisata pun, situs yang punya nilai sejarah dan kebudayaan di kawasan Geopark Kaldera Toba itu seakan tak punya gairah. 

Informasi mengenai seluk-beluk Batu Hobon dipampang pada papan menyerupai meja yang tulisannya bahkan tidak bisa lagi dibaca. Dengan fasilitas semacam itu, pengunjung yang datang dikenai retribusi Rp5 ribu per kepala. 

Ketika Parboaboa berkunjung ke sana penghujung April lalu, jumlah pengunjungnya hanya dua orang. Bila hari libur tiba, menurut penjaga di sana, paling banyak 30 orang tamu yang datang. 

Selain Batu Hobon, terdapat wisata budaya lain di Desa Sarimarrihit. Pertama, Sopo Guru Tatea Bulan yang merupakan sebuah museum berbentuk rumah khas masyarakat Batak. 

Lokasi selanjutnya adalah perkampungan Siraja Batak. Ketiga tempat itu saling berdekatan. Jaraknya satu sama lain tak sampai 1 kilometer.

Ombang Siboro, Ketua Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia ( ASPPI) Samosir, mengkritik pengelolaan Batu Hobon. Ia menegaskan Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir harus dimintai pertanggungjawaban. "Ada kelalaian pengelolaan di situ," katanya.

Bangunan pendukung di kawasan objek wisata Batu Hobon yang terbengkalai dan tak lagi jadi perhatian pemerintah. (Foto: PARBOABOA/Calvin Siboro)

Ia mendesak tata kelola wisata di sana dievaluasi. Jangan sampai terjadi pembiaran sehingga salah satu destinasi tersebut menjadi telantar. 

Sekitar 32 kilometer dari Batu Hobon, tepatnya di Desa Simanindo, Kabupaten Samosir, objek wisata Museum Huta (kampung) Bolon juga tengah sekarat. Situs ini, berdasarkan SK Bupati Samosir nomor 10 tahun 2022, telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 13 Januari 2022.

Namun, status tersebut tak juga mengubah peruntungan Museum. Ketika Parboaboa berkunjung ke sana akhir April lalu, jumlah pengunjungnya yang tercatat di buku tamu hari itu hanya dua orang.  

Museum Huta Bolon merupakan museum pertama di Sumatra Utara. Bangunan museum berupa rumah tradisional batak warisan dari Raja Sidauruk yang dibuka untuk umum sejak tahun 1969. 

Koleksinya meliputi barang-barang peninggalan leluhur batak seperti parhalaan, pustaha laklak, solu bolon, dan lain sebagainya. Dengan tarif masuk Rp20 ribu per orang, pengunjung harian Huta Bolon tidak menentu. 

Ada kalanya pengunjungnya hanya lima orang. Lain waktu, bila sedang mujur, 30-an turis bisa berkunjung dalam sehari. "Kadang-kadang, kalau ditotal enggak sampai 200-lah sebulan," ungkap Tiolina Sinambela, pengelola Huta Bolon. 

Museum Huta Bolon berada di bawah naungan yayasan milik keluarga suaminya. Sejak mendiang suaminya wafat tahun 2017, ia sepenuhnya mengelola tempat Huta Bolon dan wisata Rumah Kaca yang masih berada di satu kompleks. 

Pukulan telak terhadap Museum terjadi ketika pandemi COVID pada 2019. Angka kunjungan ke Huta Bolon merosot drastis. 

Kondisinya tak kembali seperti sedia kala meski pandemi telah lewat. Dulu, medio 80 sampai 90-an, Museum berada di masa kejayaan. 

Pengunjung harian bisa mencapai 300-an orang. Bila di Eropa memasuki periode libur musim panas, pengunjung mancanegara membeludak. Kini semua tinggal cerita, padahal saat ini saat kawasan Toba punya predikat geopark dunia dengan embel-embel status destinasi wisata super prioritas.

Lokasi Huta Bolon sebenarnya sangat strategis. Posisinya tidak jauh dari Jalan Pangururan-Simanindo, salah satu jalan arteri di Pulau Samosir. 

Di sebelah Museum terdapat Pelabuhan Simanindo, salah satu titik masuk utama ke Pulau Samosir. Seharusnya tak sulit buat wisatawan yang baru tiba dengan kapal penyeberangan untuk menuju ke sana. 

Huta Bolon, berdasarkan kajian Pemkab Samosir, punya daya tarik berupa penampilan tortor batak dan sigalegale. Pertunjukan biasanya dipertontonkan dua kali setiap hari. 

Informasi soal jadwal atraksi pertunjukan tarian di Museum Huta Bolon yang sudah memudar dimakan usia. (Foto: PARBOABOA/Calvin Siboro)

Namun sejak pandemi dan jumlah pengunjung anjlok, pengelola sudah tidak lagi menyelenggarakan penampilan itu. "Biaya operasionalnya tinggi, kami belum mampu untuk mengadakannya lagi," kata Tiolina. 

Dengan pertunjukan tortor dan sigalegale, pengelola harus mengeluarkan biaya Rp28 juta per bulan. Angkanya tidak sebanding dengan pemasukan yang diterima dari tiket pengunjung. 

Ia pernah meminta pemda setempat untuk mengambil alih operasional pertunjukan budaya di Huta Bolon. Pemkab Samosir, kata Tiolina tidak berani menyanggupi. 

Sementara itu, untuk mempertahankan Museum, Tiolina terpaksa merogoh kantong pribadi. Ia bahkan mempromosikan sendiri Museum melalui media sosial. 

Ia pernah juga berusaha menggandeng biro perjalanan untuk menggenjot jumlah tamu. Tujuannya agar Museum Huta Bolon dan Rumah Kaca masuk daftar lokasi kunjungan dalam paket wisata yang mereka jajakan.

Akan tetapi biro perjalanan baru berani menyanggupi bila pertunjukan tortor dan sigalegale kembali digelar di Huta Bolon. Tiolina tidak mau ambil risiko itu karena tak ada jaminan turis akan datang dalam jumlah banyak. 

Bisa jadi, ia malah harus nombok lebih besar untuk biaya operasional. Ia mati-matian berusaha melestarikan peninggalan leluhur Raja Sidauruk di tengah keterbatasan semacam itu. 

Tiolina menuturkan, asesor Geopark UNESCO untuk geopark dunia sampai tercengang-tercengang dengan fakta tersebut ketika mereka berkunjung ke Huta Bolon tahun lalu. “Dari beberapa destinasi heritage yang masuk dalam geopark itu,” kata Tiolina,  “Inilah yang mereka paling apresiasi.”

Tampak luar museum Huta Bolon Simanindo. Museum ini juga satu kawasan dengan Ruma Kaca di Simanindo, berdekatan dengan pelabuhan penyeberangan ke Pulau Samosir di Danau Toba. (Foto: PARBOABOA/Calvin Siboro)

Wahyu Ario Pratomo, akademisi Universitas Sumatera Utara, menyayangkan nasib wisata sejarah-budaya dalam kawasan Kaldera Toba yang nasibnya terengah-engah. Aspek kebudayaan sejatinya masuk dalam panduan pengembangan berkelanjutan geopark yang dikeluarkan UNESCO.  

Lembaga Pendidikan dan Kebudayaan Dunia itu menekankan bahwa kekayaan geologi terhubung erat dengan kebudayaan masyarakat di sekitar kawasan. Itu sebabnya, aspek budaya masuk dalam salah satu kriteria yang harus dipenuhi situs geopark dunia.  

Hal tersebut, menurut Wahyu, sempat menjadi perhatian pemerintah ketika Indonesia masih mengejar status geopark dunia bagi Kaldera Toba. Beragam sarana dan prasarana disiapkan untuk objek wisata berbasis budaya. 

Semuanya berubah ketika status tersebut berhasil diraih. Banyak infrastruktur di aspek kebudayaan yang malah terbengkalai. 

"Kesannya hanya disiapkan untuk menjadi prasyarat, ketika sudah dapat, udah, ditinggalin," ucap Anggota Kelompok Kerja Pariwisata Kawasan Danau Toba dan Pariwisata Berkelanjutan Universitas Sumatera Utara itu. 

Ia pernah berdiskusi dengan Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Samosir. Darinya, Wahyu mendapat keluhan seputar kesulitan pemerintah daerah dalam memelihara infrastruktur wisata. 

Keterbatasan anggaran menjadi masalah utama yang kerap kali mengemuka. Problemnya kian pelik lantaran tercipta semacam lingkaran setan. 

Menurut Wahyu, wisata berorientasi keindahan alam masih menjadi jualan utama kawasan Kaldera Toba. Wisata sejarah-budaya masih belum bisa dikemas untuk menarik pelancong.  

Alhasil, pemasukan pemerintah daerah dari lini tersebut pun minim. Dengan anggaran yang cekak, pemerintah akhirnya memprioritaskan pengeluaran untuk pos lain yang lebih menghasilkan.  

Infrastruktur wisata, terkhusus di aspek sejarah-budaya, akhirnya dianaktirikan. Apalagi, dengan status Toba sebagai destinasi super prioritas saja, hanya 10 persen pendapatan Kabupaten Samosir yang berasal dari sektor wisata. 

Wisata budaya penunjang di kawasan Geopark Kaldera Toba di Samosir, Sumatra Utara. (Foto: PARBOABOA/Calvin Siboro)

Kondisi tersebut kian diperparah dengan struktur wisatawan yang selama ini datang ke Kawasan Kaldera Toba. Mayoritas pengunjung masih didominasi wisatawan lokal yang justru datang dari sekitar Sumatra Utara. 

Kondisi tersebut, menurut Wahyu, tidak ideal. "Kalau yang datang dari Medan, dia sudah tau budayanya, sudah tidak menarik lagi buat dia untuk ke sana," ujar pengajar program studi ekonomi pembangunan itu memberikan ilustrasi.  

Destinasi sejarah-budaya biasanya lebih menarik bagi wisatawan dari latar belakang kebudayaan yang berbeda. Wahyu mencontohkan pelancong lokal dari luar Sumatra Utara atau dari luar negeri. 

Ia menilai, wisata budaya-sejarah perlu berinovasi terus-menerus. Tujuannya, lanjut dia lagi, agar wisatawan mendapat pengalaman yang selalu baru meski sudah datang berulang kali. 

Ia melihat, ada kecenderungan kedatangan wisatawan ke Toba lebih ditopang penyelenggaraan kegiatan skala nasional maupun internasional. 

"Kalau event-nya ada rame, begitu event-nya nggak ada, kosong," papar Wahyu. 

Parboaboa telah menghubungi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Samosir, Tetty Naibaho. Namun hingga tulisan ini ditayangkan, ia belum bisa memberikan komentar.

Reporter: Calvin Siboro

TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS